Contoh Pengembangan Produk Baru dan Ide Baru

Contoh Pengembangan Produk Baru dan Ide Baru

Pengembangan produk atau jasa akan melalui fase yang disebut Invention. Invention adalah proses menemukan teknologi dari awal. Sedangkan Inovasi adalah proses pembaharuan dari penemuan. Inovasi melibatkan peluang yang ada di pasar, termasuk penemuan teknologi dan pengetahuan tentang teknologi baru.

Sebagai contoh, penemuan teknologi Bluetooth yang memungkinkan pertukaran data melalui koneksi nirkabel dengan jangkauan jangkauan sekitar 150 meter, kini terintegrasi ke dalam media ponsel, sehingga memudahkan pengguna ponsel untuk bertukar data dengan ponsel mereka satu sama lain.

Contoh lainnya adalah inovasi perusahaan minuman ringan Coca-Cola, dimana inovasi menjadi salah satu kunci sukses membuat Coca-Cola Indonesia semakin besar dan dikenal.

Melalui Research & Development, Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, dan peralatan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif dan khas.

Pada tahun 2002, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Frestea, teh dalam kemasan dengan aroma melati yang khas. Pada tahun 2003, setelah sukses meluncurkan Fanta Nana pada tahun sebelumnya, Fanta meluncurkan "Fanta Orange Fruit", campuran dua rasa buah, jeruk dan mangga.

Melalui inovasi, Coca-Cola percaya bahwa produk yang ditawarkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar Indonesia. Dalam proses inovasi ini, terutama pada fase start-up, perlu diperhatikan agar inovasi yang dihasilkan dapat diterima oleh perusahaan dan masyarakat. Jelas bahwa pengembangan produk baru membutuhkan inovasi agar dapat menghasilkan ide dan kreativitas bagi munculnya produk atau layanan baru yang digunakan oleh konsumen.

Transformasi dari Invention ke Inovasi

Inovasi yang dihasilkan perusahaan akan mengikuti proses pengembangan produk atau jasa baru. Untuk itu, diperlukan departemen khusus untuk menangani proses ini, yaitu departemen R&D. Unit tersebut akan melakukan kajian riset tentang inovasi, yang kemudian akan dikembangkan menjadi produk atau jasa baru yang akan dibawa ke pasar.

Sumber daya mewakili sekitar 5-10% penjualan dari aktivitas R&D. Penelitian dasar mengarah pada penemuan, sedangkan pengembangan produk dan rekayasa mengarah pada inovasi.

Unit R&D harus mempertimbangkan tiga faktor ketika menerapkan perumusan strategi, yaitu:

  • Kompetensi Teknis (Technical Competention)
  • Kebutuhan Pasar (Commercial Value)
  • Kepentingan Perusahaan (Corporate Interest)

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa untuk menghasilkan produk/jasa yang berkualitas memerlukan kompetensi teknis peneliti.

Di sisi lain, produk/jasa yang dikembangkan juga harus fokus pada kebutuhan pasar (bernilai komersial) dan kepentingan perusahaan, yang keduanya harus sejalan. Untuk itu ada upaya mencari apa yang diinginkan pasar, dan mencari inventor yang memenuhi kebutuhan tersebut untuk memesan produk atau jasa.

Fungsi riset bisnis perlu ditambahkan sebagai sub-sektor dari departemen R&D untuk mendukung keberhasilan produk atau layanan baru di pasar. Sebagai contoh, pusat R&D TELKOM direstrukturisasi pada akhir tahun 2006 dan menciptakan bidang baru, penelitian bisnis. Bidang RoB mencakup 4 lab, masing-masing dengan fungsi berikut:

Business Strategy, melaksanakan riset dan pengembangan bisnis

Business Performance, melakukan evaluasi dan identifikasi performansi bisnis

Business Competitiveness, menyediakan data pasar, pelanggan dan kompetitor yang kompetitif

Industrial Partnership, melakukan pengembangan hubungan kemitraan yang strategis dengan institusi yang relevan.

Inovasi “Technology Push” and “Need Pull”

Pada fase eksplorasi, terdapat 3 mode pengenalan dan pengembangan produk/jasa baru, yaitu:

1. Menarik Pasar (Need Pull)

Menurut pandangan ini, Anda harus membuat sesuatu yang bisa dijual. Produk baru ditentukan oleh pasar sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Jenis produk baru diidentifikasi melalui riset pasar dan umpan balik pelanggan, dengan sedikit fokus pada teknologi. Tarikan permintaan akan mengarah pada pembentukan inovasi inkremental.

2. Mendorong Teknologi (Technology Push)

Pandangan ini menyarankan bahwa Anda harus menjual apa yang Anda bisa. Produk baru diperoleh dari teknologi produksi, mengadopsi teknologi canggih, mudah dioperasikan, dan jarang mendapat perhatian pasar.

Dengan kata lain, produk atau teknologi baru dipasarkan atau dijual ke pasar (calon pelanggan) yang tidak membutuhkan atau memahami produk atau teknologi baru tersebut. Dorongan teknologi akan mengarah pada inovasi radikal.

3. Antar fungsional (Interfunctional)

Produk baru membutuhkan kolaborasi antara pemasaran, operasi, keterampilan teknik, dan fungsi lainnya untuk menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan dengan menggunakan teknologi yang memberikan manfaat terbaik.

Keberhasilan inovasi produk atau layanan baru memerlukan kombinasi dari dua mode pertama, yaitu teknologi yang menghubungkan dan proses yang menghubungkan permintaan. Selain itu, menciptakan peluang bisnis baru memerlukan perhatian pada tiga elemen, yaitu:  relevant problem, technology sources dan market demand.

Lead User Research

Lead user research adalah salah satu metode yang dianggap sebagai kunci keberhasilan sebuah terobosan produk/jasa baru. Dasar pemikiran dari pendekatan ini adalah adanya lead user, yaitu konsumen/individu tertentu yang memiliki pengalaman sebelumnya dengan kebutuhan konsumen/individu lain.

Dengan melibatkan tim ahli khusus dari kelompok pengguna utama ini, penemuan inovatif yang sangat berharga akan dibuat.

Beberapa contoh peran pengguna kunci dalam terobosan inovatif baru meliputi: - Pada tahun 1950, seorang wanita menemukan protein kondisioner, bahan tradisional yang terdiri dari bir atau telur, yang merevitalisasi kecemerlangan tubuh.

Dengan pendekatan pengguna utama ini, manfaat berikut akan diperoleh:

Dapatkan informasi yang lebih kaya dan lebih andal tentang kebutuhan pelanggan yang diperoleh melalui riset pasar tradisional. Pendekatan Pengguna Utama melengkapi kebutuhan akan riset pasar tradisional, bukan menggantikannya.

Kembangkan konsep produk/layanan yang lebih baik karena berasal dari data konsumen yang lebih baik.

Mempercepat proses pengembangan produk/jasa.

Tahapan Metodologi Lead User Research

Ada empat tahapan yang harus dilakukan dalam Lead User Research, yaitu :

Stage 1: Project Planning (4-6 minggu)

  • Membuat master plan
  • Mempelajari current market place
  • Merumuskan fokus projek

Stage 2: Trends/Needs Identification (5-6 minggu)

  • Melakukan studi literatur
  • Melakukan Interview kepada top expert.
  • Analisa data, dan menentukan kebutuhan yang lebih mengerucut

Stage 3: Preliminary Concept Generation (5-6 minggu)

  • Interview lead user dan expert
  • Pengumpulan data untuk bisnis case
  • Mendefinisikan kebutuhan produk/jasa baru (buat draft konsep)

Stage 4: Final Concept Development (5-6 minggu)

  • Perencanaan Workshop Lead user
  • Mengundang partisipan
  • Pelaksanaan workshop : perbaikan konsep dengan melibatkan lead user/expert
  • Finalisasi konsep

Untuk dapat mengembangkan ide dan konsep produk baru, perlu juga mempelajari Product Life Cycles | pemahaman, interpretasi, dan strategi untuk setiap tahap. Dari situ kita bisa menganalisis potensi produk secara lebih kolaboratif.